Selamatkan Masa Depan Indonesia

Menurut pribadi saya, berdasarkan data yang ada, apapun upayanya kedepan tidak akan bisa lepas dari permasalahan hutang yang disebabkan oleh kegiatan investasi infrastruktur saat ini. Siapa pun Menterinya tidak akan bisa membalikkan kondisi Indonesia dengan cepat.

Saya kasi contoh 3 Negara penyumbang Hutang terbesar ke Indonesia (Kurs usd : 14000) per Januari 2019, Yaitu :

  1. Singapura ( 62 Milyar usd atau Rp. 868 Triliun)
  2. Jepang ( 29.7 Milyar usd atau Rp. 415.8 Triliun)
  3. China (17.3 Milyar usd atau Rp. 242.2 Triliun)

Total : Rp. 1526 Trilun

Dengan kondisi saat ini, pertumbuhan ekonomi pasti akan diperlambat untuk bisa recover (pemulihan).

Apa yang mau dilakukan ?
Naikkan pajak atau Cut Spending?
Dua2nya akan menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Namun salah satu dari dua di atas memang harus dijalanin. Naikkan pajak ? Hanya mungkin dilakukan di produk2 berpotensi buruk seperti rokok. Tapi kalau perokok akhirnya mereka berhenti merokok dan buruh yang terken PHK, yang akhirnya pajak tidak dapat kan negara dan pengangguran lah yang malah bertambah angkanya.

Cut Spending? Apa yang mau di cut spendingnya di area yang tidak meningkatkan pertumbuhan lapangan kerja. Semua uang sudah difokuskan untuk pembangunan infrastruktur yang membuka lapangan kerja bagi rakyat asing.

Ini lah yang buat Ekonom Rizal Ramli berkoar-koar karena memang kegiatan Spending yang dilakukan oleh pemerintah saat ini secara tidak langsung telah menciptakan lapangan kerja untuk warga negara lain. Artinya bertentangan dengan konsep pengelolaan kekuatan finansial negara untuk kepentingan pertumbuhan ekonomi melalui pertumbuhan lapangan kerja (Pekerja Indonesia).

Saya kasi contoh jumlah TKA China di Indonesia saat ini :

https://amp.tirto.id/kemenaker-pantau-40-ribu-tka-asal-china-demi-cegah-virus-corona-exEF

Apa yang akan terjadi, Indonesia kedepannya akan fokus diaktifitas gali lubang tutup lubang dan susah untuk melakukan kegiatan yang bisa mengangkat pertumbuhan ekonomi. Maaf, Saya lebih suka bicara apa adanya tapi bukan berarti saya pesimis. Tujuannya satu agar kita sama sama mencari formula yang terbaik dalam menghadapi kondisi Indonesia saat ini.

Prinsipnya mengelola Negara dengan model ini pasti sangat merugikan Indonesia. Dimana pengalaman yang lalu Indonesia pernah jual aset nya seperti Indosat. Pemerintah saat ini juga demikian, banyak cetak hutang yang ujungnya berpotensi menghilangkan aset negara. Semoga tidak terjadi kembali.

Anda tahu, Cadangan Devisa Indonesia saat ini turun sebesar US$9,4 Miliar. Cukup membuat banyak kalangan Khawatir termasuk saya pribadi. Jumlah itu sangat lah besar. Sebanyak US$2 miliar untuk utang pemerintah jatuh tempo, dan sekitar US$7 miliar untuk stabilisas nilai tukar rupiah.

https://m.bisnis.com/amp/read/20200407/9/1223785/cadangan-devisa-turun-us94-miliar-ini-penjelasan-gubernur-bi

Oleh karena itu kedepannya saya berharap negeri ini di pegang kendali oleh orang orang yang memang menguasai aspek Hukum, Keuangan dan Investasi. Agar eskalasi pertumbuhan Indonesia mendaparkan kepastian. Karena ketiga hal tersebut adalah kunci nya dan memang sangat detail untuk di pikirkan baik baik. Jangan sampai kecolongan.
Debt Trap Diplomacy itu sangat kejam. Waspadalah dan Tetap Kritis secara detail.

Ingat “Salah memilih pemimpin hanya akan membuat Indonesia menjadi lebih buruk dan akhirnya dikuasai Negara pemberi hutang”

Demikianlah..

*) Penulis adalah Hasbil Mustaqim Lubis, S.T, Bintang Muda Indonesia

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi kanalwan.co.id

*) kanalwan.co.id terbuka untuk umum. Panjang naskah minimal 4000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@kanalwan.co.id

*) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed